MAKALAH TEORI EKONOMI MAKRO
DATA MAKROEKONOMI
Dosen Pengampu Fernaldi Anggadha Ratno, M.Si.
Disusun Oleh :
1. Yuli Atika Ningtyas 63020160131
2. Mohamad Sopa Hari Mukti
63020160132
3. Dian Ayu Kristina 63020160156
4. Agus Tri Widodo 63020160165
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun dengan baik sebagaimana yang kami harapkan. Shalawat
dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw yang telah memberi
petunjuk kepada umat manusia dimuka bumi dan menyempurnakan akhlak dan budi
pekerti yang mulia. Kami juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Data Makroekonomi”.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak
menemukan kesulitan, kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa masih terdapat beberapa kekurangan. oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran khususnya dari dosen
pengampu mata kuliah teori ekonomi makro yaitu Bapak Fernaldi Anggadha Ratno,
M.Si. serta para pembaca yang sifatnya membangun guna kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah kata pengantar yang dapat kami berikan daripada makalah ini, semoga
makalah yang telah kami susun ini dapat memberikan manfaat.
Salatiga, 17 September 2017
Pemakalah
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................................... 2
DAFTAR
ISI..................................................................................................................... 3
BAB
1 PENDAHULUAN................................................................................................ 4
1.1 LATAR BELAKANG...................................................................................... 4
1.2 RUMUSAN MASALAH................................................................................... 4
1.3 TUJUAN PENULISAN.................................................................................... 4
BAB
II PEMBAHASAN.................................................................................................. 5
2.1
MENGUKUR NILAI AKTIFITAS EKONOMI........................................... 5
A.
Pendapatan, Pengeluaran, Dan
Aliran Sirkuler...................................... 5
B.
Beberapa Kaidah Untuk Menghitung GDP............................................ 6
C.
GDP Riil Versus GDP Nominal................................................................. 6
D.
Deflator GDP............................................................................................. 7
E.
Ukuran Rantai – Tertimbang
GDP Riil................................................... 8
F.
Komponen-komponen
Pengeluaran.......................................................... 8
G.
Ukuran ukuran Pendapatan
Lain............................................................. 9
H.
Penyesuaian Musiman................................................................................ 9
2.2
MENGUKUR BIAYA HIDUP........................................................................ 9
A.
Harga Sekelompok Barang........................................................................ 9
B.
CPI Versus Deflator GDP.......................................................................... 10
2.3
MENGUKUR TUNA KARYA....................................................................... 11
A.
Survey Rumah Tangga............................................................................... 11
B.
Survey Perusahaan..................................................................................... 11
BAB
III PENUTUP.......................................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 13
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................... 14
PENDAHULUAN
Dunia perekonomian sangat erat
kaitannya terhadap kehidupan sosial di masyarakat, oleh karena itu penting
untuk kita membahas mengenai data-data yang digunakan para ilmuan, ekonom
ataupun pembuat kebijakan-kebijakan dalam dunia perekonomian sehingga kita
dapat memprediksi kegiatan perekonomian secara lebih rinci. Sebagaimana yang
telah kita ketahui sebelumnya bahwa ilmu ekonomi makro adalah ilmu yang mempelajari
mekanisme bekerjanya perekonomian secara keseluruhan.
Dalam ilmu ekonomi makro kita
dapat mengukur nilai aktivitas ekonomi dengan menggunakan Produk Domestik Bruto
(GDP), mengukur biaya hidup dengan
Indeks Harga Konsumen (IHK), serta mengukur tuna karya dengan mengukur
tingkat pengangguran.
Pada setiap negara pasti
keberadaan data yang sistematis dari tahun ke tahun sangat diperlukan. Sebab
dari data yang tersimpan tersebut dapat diketahui bagaimana perkembangan suatu
negara apakah mengalami kenaikan ataukah mengalami penurunan. Dalam ilmu
ekonomi makro mempelajari tata cara penyusunan serta penjelasan mengenai
data-data perekonomian yang rinci dan mudah diterapkan dalam kehidupan ekonomi.
a. Bagaimana mengukur nilai aktivitas ekonomi ?
b. Bagaimana mengukur biaya hidup?
c. Bagaimana mengukur tuna karya?
a. Dapat mengetahui bagaimana nilai aktivitas ekonomi dalam suatu negara
diukur.
b. Dapat mengetahui bagaimana menghitung biaya hidup secara lebih jelas.
c. Dapat mengetahui bagaimana cara tuna karya dalam suatu negara diukur.
PEMBAHASAN
2.1
Mengukur Nilai Aktivitas
Ekonomi
Untuk
mengukur nilai aktivitas ekonomi maka salah satu rujukan yang paling tepat
adalah dengan menggunakan pengukuran Produk Domestik Bruto (GDP). Sebab GDP
sering diaggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Statistik ini
dihitung setiap tiga bulan oleh Biro Analisis Ekonomi (Bagian Departemen
Perdagangan AS) dari segudang sember data primer. Tujuan GDP adalah meringkas
aktivitas ekonomi dalam suatu nilai uang tertentu selama periode waktu
tertentu.[1]
a. Pendapatan, Pengeluaran, dan Aliran Sirkuler
Cara
menghitung GDP ada dua macam cara yaitu dengan mengukur pendapatan total
dan pengeluaran total. Untuk mengukur keseluruhan suatu perekonomian pendapatan
harus sama dengan pengeluaran, cara mengetahuinya yaitu dengan menggunakan
aliran sirkuler. Untuk mempermudah pemahaman, mari kita perhatikan gambar
aliran sirkuler di bawah ini :
b. Beberapa kaidah untuk menghitung GDP
1.
Untuk menghitung nilai total
barang dan jasa yang berbeda, pos pendapatan nasional menggunakan harga pasar.
Sebab harga pasar mencerminkan banyaknya orang yang bersedia membayar untuk
barang dan jasa. Jadi jika harga apel $0,50 dan harga jeruk $1,00, GDP akan
menjadi :
GDP = (Harga Apel x Jumlah Apel) + (Harga
Jeruk x Jumlah Jeruk )
= ($0,50 x 4) + ($1,00 x 3)
= $5,00
GDP sama dengan $5,00 yaitu nilai seluruh
apel, $2,00, ditambah nilai seluruh jeruk $3,00.
2.
Barang bekas tidak perlu
diperhitungkan di dalam GDP.
3.
Perlakuan terhadap
persediaan bergantung apakah barang disimpan atau dibiarkan. Bila barang disimpan,
nilainya dimasukkan dalam GDP. Bila dibiarkan , GDP tidak berubah. Bila
akhirnya terjual, barang tersebut dianggap sebagai barang bekas atau tidak
dihitung.
4.
Barang setengah jadi tidak
dihitung dalam GDP hanya barang jadi. Alasannya yaitu nilai barang setengah
jadi telah dimasukkan dalam harga pasar. Nilai tambah dalam sebuah perusahaan
sama dengan nilai output perusahaan itu dikurangi nilai barang setengah jadi
yang dibeli perusahaan.
5.
Sebagian barang tidak dijual
di pasar dan karena itu tidak memiliki harga pasar. Kita harus menggunakan
nilai terkait sebagian perkiraan nilainya. Misalnya , jasa perumahan dan
layanan pemerintah.
c. GDP Riil Versus GDP Nominal
Nilai barang jadi dan jasa yang diukur
dengan harga berlaku disebut GDP nominal. Ini bisa berubah setiap
saat, baik karena ada perubahan dalam jumlah (nilai riil) barang dan jasa
tersebut. Sehingga, GDP nominal Y=P x y, dimana P adalah tingkat harga dan y
adalah output riil. Disini output dan GDP serupa. Sedangkan GDP
Riil adalah nilai barang dan jasa yang diukur menggunakan harga konstan.
Perbedaan antara riil dan nominal ini dapat
juga diterapkan pada nilai moneter lain, seperti gaji. Gaji nominal (atau uang)
dinotasikan oleh W dan dibagi jadi nilai riil (w) dan variabel harga (P). Konversi dari satuan nominal ke riil ini
memungkinkan kita untuk menghilangkan masalah yang muncul ketika mengukur nilai
rupiah yang berubah sepanjang waktu sebagaimana tingkat harga berubah.
Aplikasi dalam sebuah soal : misalnya, kita
ingin membandingkan output pada 2006 dan 2007, kita pilih harga-dasar tahunan,
misal harga 2006.
GDP riil pada 2006 :
(Harga Apel 2006 × Jumlah Apel 2006) + (Harga
Jeruk 2006 × Jumlah Jeruk 2006)
GDP riil pada 2007 :
(Harga Apel 2006 × Jumlah Apel 2007) + (Harga
Jeruk 2006 × Jumlah Jeruk 2007)
GDP riil pada 2008 :
(Harga Apel 2006 × Jumlah Apel 2008) + (Harga
Jeruk 2006 × Jumlah Jeruk 2008)
Lihatlah bahwa harga tahun 2006 digunakan
untuk menghitung GDP riil untuk tiga tahun. Karena harga dipertahankan konstan,
GDP riil bervariasi dari tahun ke tahun hanya jika jumlah yang diproduksi
berbeda. Karena kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi bagi para
anggotanya sangat bergantung pada jumlah barang dan jasa yang diproduksi, maka
GDP riil memberikan ukuran kemakmuran ekonomi yang lebih baik ketimbang GDP
nominal.
d. Deflator GDP
Deflator GDP juga
disebut dengan deflator harga implisit untuk GDP, di definisikan sebagai rasio
GDP nominal terhadap GDP riil :
Deflator GDP =
Deflator GDP mencerminkan apa yang sedang terjadi pada seluruh tingkat
harga dalam perekonomian.[2]
Definisi deflator
GDP memungkinkan kita memisahkan GDP nominal menjadi dua bagian : satu bagian
mengukur jumlah (GDP riil) dan yang lain mengukur harga (deflator GDP). Yaitu,
GDP Nominal = GDP riil × deflator GDP
GDP nominal mengukur nilai yang berlaku dari output perekonomian. GDP
riil mengukur output yang dinilai pada harga konstan. Deflator GDP mengukur
harga output relatif terhadap harganya pada tahun dasar. Persamaannya dapat
dituliskan dengan :
GDP Riil =
Dengan bentuk persamaan ini. Anda dapat melihat bagaimana deflator
memperoleh namanya yaitu digunakan untuk mendeflasi (menghilangkan inflasi)
dari GDP nominal untuk menghasilkan GDP riil.
e. Ukuran Rantai-Tertimbang GDP Riil
Kita telah membahas GDP riil dengan asumsi
penyederhanaan bahwa harga yang digunakan untuk menghitung ukuran ini tidak pernah
berubah dari nilai tahun-dasarnya. Jika memang demikian halnya , maka semakin
lama harga yang digunakan akan semakin ketinggalan zaman. Sebagai contoh, harga
komputer turun secara dramatis belakangan ini, sementara uang kuliah per tahun
di perguruan tinggi naik. Ketika menilai produksi komputer dan pendidikan,
tidak tepat bila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh atau dua
puluh tahun yang lalu.[3]
f. Komponen-komponen Pengeluaran
Para ekonom dan para pembuat keputusan
tidak hanya peduli pada output barang dan jasa total, teteapi juga alokasi dari
output ini diantara berbagai alternative. Pos pendapatan nasional membagi GDP
menjadi empat kelompok pengeluaran :[4]
-
Konsumsi (C)
-
Investasi (I)
-
Pembelian Pemerintah (G)
-
Ekspor Neto (NX)
Jadi rumus untuk mencari GDP
yang disimbolkan huruf Y untuk GDP ,
Y = C + I + G + NX
g. Ukuran Ukuran Pendapatan Lain
Pendapatan nasional
mencakup ukuran ukuran pendapatan lain yang agak berbeda dan GDP. Untuk melihat
bagaimana ukuran ukuran pendapatan alternatif itu saling terkait, dapat dimulai dengan GDP dan menambah atau mengurangi
beberapa kuantitas.[5] Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :
§ GNP = GDP + Pembayaran Faktor dari Mancanegara - pembayaran faktor
kemancanegara
§ NNP = GNP - Depresiasi
§ Pendapatan Nasional = NNP – Pajak
Usaha Tidak Langsung.
§ Pendapatan Perseorangan = Pendapatan Nasional - Laba Korporasi - Kontribusi Asuransi Sosial - Bunga Neto + Deviden +
Transfer Pemerintah pada Individu + Pendapatan Bunga Perseorangan.
§ Pendapatan Perseorangan Disposabel = Pendapatan Perseorangan – Pembayaran
Pajak dan Nonpajak Perseorangan
h.
Penyesuaian
Musiman
Karena GDP
Riil dan ukuran ukuran pendapatan lain mencerminkan kualitas kinerja
perekonomian, para ekonom tertarik untuk memperlajari fluktuasi kuartal demi
kuartal dalam variabel variabel ini. Tidak mengejutkan bahwa GDP mengikuti siklus
musiman. Sebagian dari perubahan ini bisa dicirikan pada kemampuan kita untuk
berproduksi : misalnya, membangun rumah lebih sulit pada musim dingin ketimbang
di musim lain.selain itu, orang orang memiliki selera musiman. Mereka menyukai waktu waktu
tertentu untuk aktifitas aktifitas musiman, seperti liburan dan belanja hari
natal.[6]
2.2
Mengukur
Biaya Hidup
a.
Harga
Sekelompok Barang
Ukuran mengenai tingkat harga yang paling banyak
digunakan adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index
(CPI). Biro Statistik Tenaga Kerja, yang merupakan bagian dari Departemen
Tenaga Kerja AS, bertugas menghitung CPI. Perhitungan itu dimulai dengan
mengumpulkan harga dari ribuan barang dan jasa. Jika GDP mengubah jumlah
berbagai barang dan jasa menjadi sebuah angka tunggal yang mengukur nilai
produksi, CPI mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks
tunggal yang mengukur seluruh tingkat harga.[7]
CPI adalah harga sekelompok barang dan dan jasa relative terhadap harga
sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar. Sebagai contoh,
anggaplah seorang konsumen membeli 5 apel dan 2 jeruk setiap bulannya. Kelompok
barang itu terdiri dari 5 apel dan 2 jeruk , dan CPI-nya adalah
CPI =
Pada CPI ini tahun 2006 adalah tahun dasar. Indeks
itu menyatakan berapa biaya yang harus dibelanjakan untuk memebeli 5 apel dan 2
jeruk sekarang relatif terhadap harga buah yang sama pada tahun 2006.
b. CPI Versus Deflator GDP
PDB
deflator mengukur harga semua barang yang diproduksi, sementara CPI mengukur
harga hanya barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Dengan demikian,
peningkatan harga barang yang dibeli hanya oleh perusahaan atau pemerintah akan
muncul dalam deflator PDB, tetapi tidak dalam CPI.
Juga,
perbedaan lain adalah bahwa deflator GDP hanya mencakup barang dan jasa yang
diproduksi di dalam negeri. Barang-barang impor bukan bagian dari GDP dan
karenanya tidak muncul dalam deflator GDP.
Perbedaan
ketiga adalah cara keduanya mengagregasi harga dalam perekonomian. CPI
menerapkan timbangan tetap pada harga barang yang berbeda, sedangkan deflator
GDP menerapkan timbangan yang berubah.
Studi Kasus
Apakah CPI mengukur inflasi terlalu tinggi?
2.3
Mengukur Tuna Karya
a. Survei Rumah Tangga
Tingkat
pengangguran ini berasal dari survei yang melibatkan kira kira 60.000 rumah
tangga yang disebut dengan survei populasi terkini (Current Population Survey)
berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan survei, setiap orang dewasa (16 tahun
keatas) disetiap rumah tangga dimasukan kedalam tiga kategori[8]
:
1.
Bekerja : Kategori ini
mencangkup seseorang pada saat survei dilakukan sebagai pegawai yang menerima
upah, bekerja pada usaha milik sendiri, atau bekerja sebagai pegawai yang tidak
menerima upah pada usaha keluarga.
2.
Tidak bekerja : Kategori ini
mencangkup mereka yang tidak bekerja, memiliki keinginan untuk bekerja, dan
telah mencoba mencari pekerjaan selama 4 minggu.
3.
Tidak masuk dalam angkatan
bekerja : Kategori ini mencangkup mereeka yang tidak termasuk dalam dua
kategori awal seperti pelajar, ibu rumah tangga atau pensiunan.
Adapun cara sederhana untuk mendefinisikan
angkatan kerja dan tingkat pengangguran adalah sebagai berikut:
Angkatan Kerja = Jumlah Orang yang Bekerja +
Jumlah Penganggur
Tingkat Pengangguran =
×100
Statistik terkait adalah tingkat partisipasi
angkatan-kerja (labour-force participation rate), presentase dari populasi
orang dewasa yang ada dalam angkatan kerja :
Tingkat Partisipasi Angkatan
Kerja =
x 100
b. Survei Perusahaan.
Ketika Bureau of Labour Statistic (BLS)
melaporkan tingkat pengangguran setiap bulannya, lembaga itu juga melaporkan
berbagai data statistik lain yang menjelaskan kondisi di pasar tenaga kerja.
Beberapa dari data statistik tersebut seperti tingkat partisipasi angkatan
kerja. Diperoleh dari Current Population Survey. Sementara itu data statistik
lainnya berasal dari survey terpisah atas sekitar 160.000 perusahaan bisnis
yang memperkerjakan lebih dari 40 juta tenaga kerja. Apabila anda membaca
berita di surat kabar yang mengatakan bahwa perekonomian telah menciptakan
sejumlah lapangan pekerjaan pada bulan lalu, data statistik tersebut
adalahperubahan jumlah pekerja yang tercantum pada laporan bisnis menyangkut
pembayaran gaji mereka. [9]
Karena BLS melakukan dua
survei atas kondisi pasar tenaga kerja, biro tersebut menghasilkan dua ukuran
total pekerja. Dari survei rumah tangga , diperoleh estimasi jumlah orang yang
mengatakan bahwa mereka bekerja. Sementara dari survei perusahaan ,diperoleh estimasi jumlah pekerja yang
dimiliki perusahaan berdasarkan gaji mereka.
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Data makroekonomi pada
pembahasan kali ini membahsa mengenai pengukuran nilai aktivitas ekonomi dengan
Produk Domestik Bruto (GDP), pengukuran biaya hidup dengan Indeks Harga
Konsumen (IHK), dan pengukuran tuna karya dengan tingkat pengangguran.
Kegunaan dari data
makroekonomi yaitu untuk memantau perubahan-perubahan dalam perekonomian dan
untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Mankiw,N Gregory. 2006. MAKROEKONOMI Edisi
Keenam. Jakarta : Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar